Minggu, 14 Agustus 2011

PUISI

Oleh : Fitri Rahayu

SEKAM

Ada sekam dalam hatiku

Sekam itu bernama cemburu

Nafasku kian memburu

Panas dan sesak berhembus tak menentu

Sekam itu berasal dari cinta

Cinta yang awalnya teramat menggoda

Lamat – lamat kurasa dalan jiwa

Namun, sekam itu kian membara

Kau yang menyulut api dalam sekam

Dalam keraguan yang terus menikam

Hingga malam kian mencekam

Kecemburuan ini kan tetap jadi sekam

Kalau saja sekam itu tak kau tanam

Tak mungkin aku terjaga sepanjang malam

Bukannya segera kau siram

Malah terus kau sulut dan tak kunjung padam

Sirnagalih, 22.10 WIB. 12 Juni 2011

Teruntuk yang selalu membuatku cemburu

MUKADIMAH

Kumukadimahi dengan senyummu

Ah..itu cukup untuk membuatku menggigil

Bukan itu, tepatnya aku sangat menggigil

Dan aku tak beranjak dalam gigil yang meluluh

Lalu sorot matamu melelehkanku

Entah keajaiban mana yang membuatnya begitu indah dan teduh

Kuhirup udara dalam – dalam

Kurasakan nafas surga melewati kerongkonganku

Harum dan masygul tiada tara

Kini aku berada jauh dalam hatimu

Aku terkesiap, ada sebongkah cinta disana

Kumasuki lebih dalam ke urat nadimu

Kutemukan sepotong rindu

Kemudian, aku berlindung diantara kekar lenganmu

Bersandar manja di dinding bahumu

Merasakan hentakan denyut jantungmu

Cukuplah sudah, kuakhiri saja dalam pelukmu

Sirnagalih, 05.20 WIB. 13 Juni 2011

Teruntuk seseorang yang selalu kurindu.

DIA BERBISIK DENGAN TUHAN

Aku mendengar dia berbisik dengan Tuhannya

Di penghujung malam yang mulai menua

Lirih dan parau nyanyiannya di malam itu

Kulihat tangannya menengadah ke langit

Entah meminta apa, aku samar mendengarnya

Aku semakin mendekat

Jarak antar degup jantungku semakin rapat

Teralun lembut dalam bisikannya

Menyebut namaku

Dia berbisik dengan Tuhannya

Dipenghujung malam yang telah menua

Dia Ibuku, yang menengadahkan tangan ke langit

Meminta pada Tuhannya

Mendo'akanka selulu dalam Rahmat-Nya

Sirnagalih, 02.35 WIB. 20 Mei 2011.

Teruntuk Ibuku tercinta.

LULUH

Sesungguhnya aku sangat gelisah

Rinduku luluh runtuh

Kujelajahi pesona resah

Cintaku rubuh jatuh

Dari hati, 23.45 WIB.18 Juli 2011


SI KAYA DAN SI MISKIN

Si miskin berteriak kelaparan

Menuntut di berikan sandaran

Sombong memang, berteriak kelaparan

Memangku nasib menunggu diberi kelancaran

Si kaya berpaling geram

Menggerutu di tengah temaram

Menjejali hati dengan sekam

Menyiapkan lidah siap menikam

Si miskin yang sombong

Tak tahu arah bagai kecebong

Si kaya yang beradab

Menjelma jadi biadab

Si miskin berteriak

Si kaya menolak

Si miskin malas

Si kaya culas

Kamar hati, 07.50 WIB. 20 Juli 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar