Minggu, 14 Agustus 2011

Bagai Mengukir di Atas Batu

Oleh : Fitri Rahayu

Pahlawan tanpa tanda jasa. Ungkapan itu tak lagi asing di telinga kita. Siapa lagi kalau bukan guru yang berhak menyandangnya? Tentu kita menyadari betul jasa seorang guru. Dari mulai kita duduk di bangku taman kanak – kanak, hingga duduk di bangku kuliah, yang kemudian berubah nama menjadi dosen. Namun, seringkali kita tidak menyadari jasa –jasa beliau. Bahkan di Negara kita tercinta ini. Sungguh miris melihat nasib para guru di negri ini. Telah menjadi rahasia umum bahwa gaji seorang guru, apalagi guru honorer itu jauh dari upah minimum regional (UMR). Bagaimana negri ini mau maju, jika masih memarjinalkan para pendidik. Bukankah para pejabat di Senayan sana, bahkan presiden tak akan menjadi secerdas itu tanpa tangan dingin seorang guru. Sungguh miris jika kita membahasnya lebih lanjut.

Pada kenyataannya, memang ada beberapa oknum pendidik yang melakukan perbuatan yang membuat kita bergidik. Seperti sudah lumrah di beritakan di media Koran maupun televisi. Sebenarnya tak pantas untuk dikatakan. Tapi ini kenyataan. Ada oknum guru yang melakukan kekerasan fisik terhadap siswanya. Ada pula yang menilep uang tabungan siswa. Hingga yang lebih parah, ada oknum guru yang tega mencabuli siswanya. Naudzubillahimindzalik. Tapi lupakanlah. Kasus –kasus itu hanya mencoreng citra guru yang sebenarnya. Para guru yang berhati mulia masih sangat banyak. So, don’t worry.

Menjadi seorang guru yang berkualitas memang berat. Selain harus menempuh pendidikan selama kurang lebih lima tahun dibangku kuliah, seorang guru pun harus mempunyai inner power. Tak mudah menangani banyak siswa yang tentunya berbeda – beda. Ya… kalau cuma mengajar mata pelajaran sih, gampang. Tapi lebih daripada itu, seorang guru harus punya ekstra kesabaran untuk menghadapi siswanya. Seorang guru juga harus senantiasa menjaga citra dirinya di mata masyarakat. Karena mau tidak mau, seorang guru itu, menjadi panutan di masyarakat. Meskipun dengan gaji yang tak seberapa jika dibandingkan dengan pekerja yang bergaji UMR. Seorang guru harus selalu bersemangat menebarkan ilmu. Seribet itukah? Ya, memang begitulah.

Meskipun demikian, langkahku tak akan pernah surut. Aku ingin menjadi seorang guru yang berkualitas. Kenapa? Tentu tak ada banyangan gaji besar dihadapanku. Hanya kekagumanku kepada seorang guru yang membuatku bertekad untuk mengikuti jejaknya.

***

Rancamanyar, 2003

Sudah satu bulan lamanya aku absen sekolah. Bukan karena aku tak mau pergi kesana. Bukan pula karena sakit yang melanda. Tapi aku tak punya ongkos untuk pergi ke sekolah. Jarak antara rumah dan sekolahku lumayan jauh. Aku harus berjalan kaki sejauh dua kilometer, melewati pesawahan untuk sampai ke jalan raya. Setelah itu aku sambung dengan menumpang keor, sejenis kendaraan umum yang jika penumpang mau berhenti harus mengetok kaca dibelakang supir. Ongkosnya, Rp. 1500,. Butuh 25 menit untuk sampai ke terminal. Selesai dengan keor, aku harus naik angkot sekitar 15 menit, seribu lagi harus ku keluarkan. Jika dijumlahkan, butuh kira – kira satu jam untuk sampai di SMPN 1 Baleendah. Dengan menghabiskan ongkos pulang – pergi, RP. 5000. Cukup berat untuk kondisiku sekarang.

Kenapa aku mau bersekolah sejauh itu? Jawabanya karena SMPN 1 Baleendah adalah sekolah favorit. Tak sembarang siswa bisa diterima masuk kesana. Selain butuh biaya yang tak sedikit, setiap siswa yang ingin sekolah disana harus melalui tahapan testing yang sangat ketat. Alhamdulilah, aku berhasil lulus testing dengan mudah. Aku berhasil menembus peringkat ke – 97 dari 450 siswa yang berhasil lulus test. Dan setidaknya, aku telah melewati sekitar 1500 pendaftar. Orang tua mana yang tidak merasa bangga mengetahui anaknya berhasil masuk sekolah favorit. Begitupun dengan orangtuaku. Meskipun mereka harus mengeluarkan biaya lebih.

Tetapi, hari ini miris rasanya. Aku tak bisa pergi ke sekolah karena tak punya ongkos. Orangtuaku sudah tak mampu lagi membekali aku uang saku. Jangankan untuk ongkos atau membayar SPP, untuk makan saja kami kekurangan. Usaha orang tuaku mengalami kebangkrutan. Ya, begitulah resiko seorang wirausahawan. Mereka kekurangan modal untuk menombok barang dagangan. Sebagai penjual sembako, banyak pelanggan yang ngutang. Hingga terjadi ketidak seimbangan antara pengeluaran dan pendapatan. Dan itu berdampak besar pada kondisi keuangan keluarga kami.

Untuk menutupi ketidakhadiranku di sekolah, aku menulis surat keterangan sakit. Yang ditulis olehku sendiri, dan juga memalsukan tandatangan bapakku. Semua itu kulakukan terpaksa. Hanya itu yang bias kulakukan untuk membuat aku tidak di coret dari daftar nama siswa SMPN 1 BE. Aku tidak mau menyusahkan orangtuaku dengan memikirkan biaya sekolah. Karena aku tahu persis apa yang mereka pikirkan saat ini. Yaitu, bagaimana kami sekeluarga bisa makan.

Satu bulan lamanya aku tak hadir di sekolah. Sudah tentu akan menjadi pertanyaan untuk teman – temanku. Apalagi bagian kesiswaan. Jangankan tidak hadir selama berminggu – minggu, sehari saja absen, bias di interogasi habis – habisan oleh bagian kesiswaan. Ya, memang begitulah peraturannya. Kenapa tidak ada temanku yang menengokku, padahal mereka tahunya aku sakit? Itu juga aku syukuri, karena tak ada temanku yang mengetahui letak rumahku. Maklum, rumahku agak jauh dari peradaban. Itu merupakan sebuah keuntungan buatku, karena jika mereka tahu alasanku absen sebulan ini, mereka pasti sudah datang menengok. Dan aku hanya bisa berharap ada keajaiban. Berharap ada uluran tangan Tuhan. Berharap aku bisa terus sekolah.

Sore yang cerah. Seperti biasanya aku mengurusi tanaman dipekarangan rumahku. Hanya mereka yang bisa menghiburku. Mawar, Bunga sepatu, dan tanaman lainnya. Mereka menjadi penghiburku. Bersama mereka, sejenak aku bisa melupakan perih dihati karena ingin sekolah. Dan hanya mereka barang berharga dirumah. Karena barang- barang berharga dirumah sudah habis dijual. Semuanya hanya untuk bertahan hidup.

Kurapikan rumput – rumput liar yang mulai meninggi. Ketika sedang asyik – asyiknya berkebun, tiba – tiba ada suara menyapaku.

“Fit, kamu baik-baik saja?”

Aku mendongak kaget. Nita, Resti, dan Bu Nunung telah ada dihadapanku. Aku langsung menyalami mereka.

“Alhamdulilah fit baik,” Dengan gemetar aku menjawab. Lalu aku mempersilahkan mereka masuk. Akupun memenggil mamaku.

“Maaf, Bu, saya wali kelasnya fitri,” Bu Nunung memperkenalkan diri.

“O..iya, Bu, saya mamanya fitri,” Balas mama memperkenalkan diri.

“Begini, Bu. Kami mengkhawatirkan Fitri. Sudah sebulan ini absen. Kami hanya menerima surat keterangan sakit,” Bu Nunung melirik padaku.

“Maaf, Bu. Sebenarnya Fitri tidak sakit,” Jawab mama. Nita dan Resti menatapku sinis.

“Lantas, apa alasannya, Bu, hingga fitri absen sebulan ini?”

“ Maaf, Bu. Tapi sepertinya saya sudah tidak sanggu lagi membiayai sekolah Fitri,” Jawab mama. Lemas. Bu Nunung berpikir dalam diam. Nita dan Resti berbisik- bisik tak jelas. Sedangkan aku hanya tertunduk lesu.

“Kamu masih ingin sekolah, Fit?” Bu Nunung memecah keheningan.

“I..iya, Bu.”

“Bagus.” Sebuah senyum tersunging dari bibir Bu Nunung.

“Maksud Ibu, bagaimana?” Tanya mamaku. Tak mengerti.

“Begini, Bu. Jika Fitri masih mau sekolah, biarkanlah dia sekolah. Mengenai biaya sekolah, janagn terlalu dipikirkan.”

“Bukan hanya itu, Bu. Kami juga tak mampu membekali Fitri ongkos untuk berangkat ke sekolah,” Mamaku mempertegas masalah. Bu Nunung mengeluarkan dompet. Dan mengambil dua lembar uang lima puluh ribuan.

“Ini untung ongkosmu. Ibu rasa ini cukup untuk seminggu,” Bu Nunung menyodorkannya padaku.

“Terima kasih, Bu.” Aku menerimanya dengan gembira.

“Mulai besok kamu sekolah ya, Fit! Ibu tunggu.”

“Lalu bagaimana dengan biaya selanjunya, Bu?” Tanya mamaku. Cemas.

“Kita pikirkan nanti. Ibu tidak perlu khawatir,” Sorot mata Bu Nunung memancarkan optimisme.

“Sekali lagi terima kasih, Bu.”

“Oke, tapi kamu harus membalasnya, Fit.”

“ Maksud Ibu?”

“Mulai sekarang, belajarlah lebih rajin. Pertahankan prestasimu dikelas!”

“Insya Allah, Bu. Fitri akan berusaha.”

“Baiklah. Kami pamit dulu, sudah sore,” Bu Nunung menyalami aku dan mama. Resti dan Nita hanya berlalu dingin. Entahlah aku tak tahu kenapa.

***

Pagi ini terasa masygul. Setidaknya untukku yang sedang riang. Aku menyusuri setiap jalan dengan penghayatan penuh. Debu dan asap knalpot kendaraan bermotor, kunikmati saja sebagai limpahan alam. Hari ini aku kembali ke sekolah. Dalam bayanganku, teman – temanku akan menyambut riang. Ah, langkahku semakin rapat.

Setibanya di gerbang sekolah, aku merasa agak canggung. Maklum, sudah sebulan ini aku absen. Aku berpapasan dengan beberapa teman sekelasku. Ah, mungkin mereka sedang sibuk, sehingga tak sempat menyapaku. Kelas XII i. aku memasuki kelasku. Aku tak menyangka, tak ada sambutan sama sekali. Teman – temanku hanya menatapku dingin. Bahkan Nita dan Resti, kebanyakan dari mereka hanya berbisik – bisik. Entah apa yang mereka bisikan. Hanya Citra yang menanyakan kabarku dan mau menyapaku. Begitupun dengan guru – guruku, mereka tak menanyakan kabarku sama sekali. Bahkan ada yang menyangka aku adalah murid baru. Batinku perih. Ternyata selama ini tak ada yang menganggapku ada. Lalu, kenapa sebelumnya aku bisa berteman akrab dengan mereka? Oh..rupanya aku tahu alasan sebenarnya. Teman – temanku yang rata – rata anak orang berada itu, malu berkawan denganku yang adalah anak orang tak punya. Aku terima saja kenyataan ini. Meskipun hari – hariku setelah ini akan terasa berat tanpa teman.

Ruang Tata Usaha. Dengan gelisah aku duduk di belekang meja TU.

“Fitri Rahayu kelas tujuh I,” Jawabku ketika ditanya identitas oleh petugas TU.

“Ini kartu SPP-mu,” Petugas TU menyodorkan selembar kartu berwarna biru.

“Terima kasih, Pak.” Aku berlalu keluar ruangan. Petugas TU hanya menyungingkan senyum tanpa menjawab. Mataku tertuju pada kartu berwarna biru di genggamanku. Kolom – kolom yang ada disana telah terisi oleh bubuhan cap dan tandatangan. Aku terkesiap, ternyata SPP-ku selama satu semester telas lunas. Tentu aku tahu siapa yang membayarnya. Bu Nunung. Ah, sungguh baik. Beliau rela membayar SPP-ku selama satu semester penuh. Kulihat lebih teliti ke daftar siswa yang tidak mampu. Tak ada namaku disana. Dan tak ada lagi lowongan untuk mengajukan diri. Karena aku terdaftar sebagai siswi yang berasal dari keluarga yang tergolong mampu. Jadi tak ada keringanan biaya untukku. Berarti Bu Nunung yang membayarnya secara pribadi. Huh.. batinku terasa lega, setidaknya kini aku bisa terus sekolah.

Ternyata masalahku belum tuntas sampai disini. Satu bulan lamanya aku absen. Itu artinya, aku ketinggalan banyak pelajaran. Guru –guruku membebankan tugas – tugas padaku. Dari mulai soal, makalah, hingga mengisi LKS yang bahkan tak satupun LKS yang aku punya. Lembar kerja siswa itu terlalu mahal untukku. Rp. 6000,./LKS x 15 pelajaran = Rp. 90.000,. tentu ini berat untuku. Alhasil, aku diharuskan menyalin semua isi LKS yang dipinjamkan oleh Citra. Hanya Bu Nunung yang mau memberikan keringanan. Beliau tak mengharuskan aku menyalin LKS. Dan lebih daripada itu, beliau juga memberiku uang saku setiap minggunya untuk ongkos ke sekolah. Semakin kagum aku padanya. Beliau sudah kuanggap seperti malaikat utusan Tuhan, yang mengulurkan tangannya untukku. Matematika. So hard to me. Aku tidak suka Matematika. Meskipun demikian, ketika belajar bersama Bu Nunung, entah kenapa semangatku berkobar. Aku masih ingat pesan beliau, “Balaslah segala kebaikan Ibu dengan rajin belajar.”

Satu semester pun berlalu. Tak terasa hari – hari berat berhasil ku lewati. Keadaan ekonomi keluargaku berangsur membaik. Usaha bapakku mulai merangkak maju. Kini, aku bisa mendapatkan uang saku lagi. Hari ini adalah hari pembagian rapor. Hari penentuan apakah aku naik kelas XIII atau harus tinggal di kelas XII. Mamaku datang unutuk mengambil rapor. Ia menatapku bangga. Setelah perjuangan yang berat selama satu semester ini, akhirnya aku bisa naik kelas. Walaupun nilai – nilaiku merosot turun. Tapi aku tetap bersyukur atas hasil yang kudapat. Aku menyalami Bu Nunung dan mengucapkan terima kasih. Beliau membalas dengan senyuman,”Selamat berlibur, Nak. Semoga liburanmu menyenangkan.”

***

Baleendah, 2011

Hari ini ujian test Linguistik yang menjemukan. Semua teman sekelasku mengeluh tentang mata kuliah yang satu ini. Begitupun denganku. Namun, setiap semangatku kendor, aku kembali mengingat ke delapan tahun yang lalu. Disaat aku hampir tak bisa melanjutkan pendidikanku. Nikmat mana lagi yang aku dustakan. Kini aku tengah duduk di bangku kuliah yang diimpi – impikan banyak orang. Huh…masa, test begini saja aku sudah menyerah. Pikiranku menerawang. Ada wajah Bu Nunung membayang. Kalau bukan karena uluran tangan Tuhan melalui beliau, mungkin aku tak akan berada disini sekarang. Tak akan berstatus sebagai seorang mahasiswa. Meskipun, sejak aku lulus SMP aku tak pernah bertatap muka lagi dengan beliau, tapi Bu Nunung kan tetap ada dalam semangatku.

Jasa – jasanya bagai terukir diatas batu yang tak mudah terhapus. Aku ingin seperti Bu Nunung. Menjadi seorang guru yang tidak hanya mengajar dengan ilmunya. Tetapi menjadi seorang guru yang juga mengajarkan tentang apa arti kemanusiaan, ketabahan, dan kerja keras. Tapi maaf, Bu. Fitri tak bisa menjadi seorang guru matematika seperti ibu. Karena sampai saat ini Fit masih tak suka dengan pelajaran yang satu ini. Hehe

Terima kasihku kuucapkan

Pada guruku yang tulus

Salam takzim dari anakmu.

Sirnagalih, 19 Juni 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar