Jumat, 29 Januari 2010

Menjual Seni, Mengepulkan Asap Dapur

Menjual Seni, Mengepulkan Asap Dapur

Sabtu, 17 Januari 2009 | 11:03 WIB

Oleh Gregorius Magnus Finesso dan Rini Kustiasih

Tangan lincah Ferry (19) menggores kain mori berukuran 130 cm x 75 cm yang telah dilumuri kanji dengan pisau paletnya. Warna-warna terang dari cat merek Peoni dibubuhkan pemuda Desa Jelekong, Baleendah, Kabupaten Bandung, itu membentuk fragmen panorama pedesaan. Sebatang rokok keretek tak pernah lepas dari isapan. Santai....

"Dalam sehari, saya bisa membuat 20 lukisan pemandangan pedesaan. Gambarnya sudah di luar kepala," ujar lulusan SMA itu, Jumat (16/1) siang.

Aep Saefuddin (34), guru lukis Ferry, mengaku, dalam seminggu memperoleh upah Rp 200.000. Meski kecil, upah itu mampu menutupi kebutuhan sehari-hari. Untuk setiap lukisan, pekerja memperoleh keuntungan Rp 2.000.

Lukisan "tukang gambar" Jelekong seragam, alias diproduksi massal. Selain panorama pedesaan, obyek gambar yang biasa dicetak adalah pacuan kuda, buah, kereta kencana, ikan koi, atau adu ayam.

"Banyak remaja putus sekolah belajar melukis dan akhirnya bisa mencukupi kebutuhannya sendiri bahkan keluarganya. Boleh dibilang, hampir separuh warga Jelekong makan dari lukisan," tutur Iim Nurhayati (31), pemilik salah satu galeri lukisan di RT V RW I, Kampung Jelekong.

Iim memasarkan lukisannya ke Semarang, Bogor, Bandung, Bali, Malaysia, bahkan Arab Saudi. Dalam sebulan, omzet dari 5.000 lukisannya mencapai Rp 100 juta. Dari hasil berjualan lukisan, Iim bisa membangun rumah, membeli mobil, bahkan menunaikan ibadah haji. Asep Subarnas (44), pengusaha lain, mengaku, gambar pemandangan paling laku. Untuk satu lukisan pemandangan di atas kanvas berukuran 135 cm x 40 cm, ia untung Rp 120.000 dari harga Rp 150.000 yang ditawarkan. Dampak krisis

Krisis global pun turut mengimbas. "Para tengkulak Bali mulai jarang memesan karena jumlah turis asing yang biasanya membeli lukisan turun drastis," ujarnya.

Merapat ke pusat Kota Bandung, lukisan karya perupa Jelekong dapat dijumpai di kawasan Braga. Di jalan sepanjang 700 meter itu, berjajar dari pedagang lukisan kaki lima hingga galeri lukisan ternama, seperti Galeri Tatarah.

Adang Suheri (63), penjual lukisan di Jalan Braga, mengatakan, dalam sebulan bisa meraup Rp 2 juta saat ramai. Keuntungan itu memang menurun dibandingkan dengan era 1980-an yang bisa mencapai Rp 4 juta.

Saat ini ada sekitar 10 penjual lukisan di sepanjang Jalan Braga. Bila dalam sebulan keuntungan mereka Rp 2 juta, perputaran uang dari bisnis lukisan itu mencapai Rp 200 juta.

Anton (32), pramuniaga di Galeri Tatarah, mengatakan, harga lukisan perupa Jelekong Rp 50.000-Rp 500.000 per buah tergantung bahan baku dan kualitasnya.

Meski diproduksi massal, lukisan karya pelukis Jelekong tetap menarik wisatawan. "Harganya murah. Beda dengan lukisan perupa terkenal yang mencapai jutaan. Saya tidak paham lukisan, hanya untuk hiasan," kata Agung Tisnawan (44), wisatawan asal Magelang, Jawa Tengah.

Kisah perupa Jelekong memperpanjang debat mengenai batasan seni dan industri yang kian bias. Demi menyambung hidup, cita rasa seni rupa dikolaborasikan dengan industri yang mengikuti selera pasar. Namun, berpijak pada fakta, kini setidaknya 200 kepala keluarga di Desa Jelekong berhasil menaikkan taraf hidup.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar